Evolusi dan Sejarah Game RPG Dari Tabletop ke Monitor PC

Lintang Ayomi |

Sejarah Game RPG

Apakah game RPG masih relevan hingga sekarang? Tentu saja! Bahkan elemen-elemen di setiap game RPG merasuk ke dalam beberapa genre lainnya yang membuat game semakin kompleks. Di sisi lain, banyak orang yang menganggap game RPG hanya merupakan game dengan combat system tertentu. Memang tak ada salahnya beranggapan seperti itu lantaran secara roots-nya game RPG memiliki combat system yang lebih taktis.

Kini game RPG sudah berevolusi dan beradaptasi ke berbagai bentuk. Lantas, bagaimana awal evolusi game RPG? Nah, pada kesempatan kali ini, Tombol Media akan membahas sejarah dan evolusi game RPG dari masa ke masa. Maka dari itu, mari simak artikel berikut!

Baca juga: Rekomendasi 7 Game RPG PC Terbaik dengan Gameplay Keren!

Sejarah Game RPG 

Kelahiran Dungeon and Dragons (D&D)

Ide permainan RPG awalnya ini tak lebih dari sekadar eksplorasi dan eksperimen di antara para pecinta cerita fantasi. Lalu di tahun 1974, dua orang laki-laki asal Amerika Serikat, Gary Gygax dan Dave Arneson, memperkenalkan sebuah permainan dengan setting fantasy yang memiliki unsur pembagian peran di setiap pemainnya bernama Dungeons & Dragons (D&D), yang akhirnya mengubah segalanya. 

Game RPG Gary Gygax dan Dave Arneson

Untuk menjalankan karakter yang diperankan, seorang pemain harus mengocok dadu yang dan berkolaborasi dengan Dungeon Master. Karena menggunakan dadu ini, pemain akan memainkan permainannya secara bergantian. Nanti, mereka akan berpetualang melalui sebuah narasi dan juga beberapa aturan. Namun, aturannya ini awalnya dirancang oleh Jeff Perren yang juga merancang setting medieval Dungeons and Dragons

Game RPG D&D

Ternyata, konsep yang diusung dari game D&D sangatlah menarik, sehingga di tahun 1975, game ini diterjemahkan ke game komputer yang dirancang di University of Illinois oleh Will Crowther. Pengembangan game RPG komputer ini hanya menggunakan teks atau menggunakan kodifikasi ASCII (American Standard Code for Information Interchange). 

Meskipun di era tersebut segi grafis dan interaksinya sangat sederhana, game ini memungkinkan pemainnya untuk mengeksplorasi yang akhirnya menjadi dua elemen penting dalam RPG yang kemudian akan berkembang menjadi fitur pokok dalam game-game RPG modern.

Selain kental dengan narasi, RPG juga memiliki satu elemen yang paling penting, yakni sistem leveling up, di mana setiap karakter mampu meningkatkan kemampuannya di sepanjang perjalanan mereka. Peningkatan kemampuan ini juga bergantung dari perannya, sehingga pemain bisa menajamkan salah satu aspek kemampuan dalam karakter mereka. Sayangnya, orang-orang di luar universitas belum bisa menikmati game RPG ini.

Dikenalkan ke khalayak ramai pada 1980-an

Pada tahun 1980-an, dunia game video mengalami perubahan yang signifikan. Di sinilah genre ini diperkenalkan ke khalayak ramai. Meski sebelumnya sudah ada game RPG di tahun 1979 berjudul Temple of Apshai, di tahun tersebut belum ada game dengan genre ini yang benar-benar mendobrak industri video game. Satu tahun setelahnya lah, sebuah game bernama Rogue di mana pemain akan diajak menjelajahi penjara bawah tanah atau yang sekarang dikenal sebagai dungeon crawling. Dari game inilah sebuah subgenre ‘roguelike’ muncul setelahnya. Kloningan game Rogue ini baru muncul ke pasar konsol rumahan pada empat tahun setelahnya. 

Game RPG Temple of Asphai

Gaya dungeon crawling kemudian diwarisi oleh game-game setelahnya dan mendulang kesuksesan, di mana Diablo merupakan salah satu game dungeon crawling tersukses sepanjang masa. Akan tetapi, sebelum ada game sesukses Diablo, di tahun 1987 muncul sebuah game roguelike berjudul 1987. 

Game RPG Rogue

Keterbatasan teknologi di tahun 1980an tidak melimitasi kreativitas dari kreator game RPG eranya. Game seperti “Ultima” (seri dimulai pada tahun 1981), “Wizardry” (seri dimulai pada tahun 1981), dan “Bard’s Tale” (dimulai pada tahun 1985) menerapkan combat mechanics turn-based dan sistem leveling up. Ultima sendiri hingga kini menjadi game RPG paling berpengaruh sepanjang masa.

Game RPG Ultima

Di era ini juga, tema game RPG mulai berkembang yang tadinya hanya bertema medieval, muncul tema luar angkasa melalui game Starflight pada tahun 1986. Tema luar angkasa yang diangkat Starflight tentu memberikan pengaruh pada game-game selanjutnya, yakni seri Mass Effect garapan BioWare. 

Game RPG Starflight

Jejak kemunculan game 3D sebenarnya juga sudah lama. Bahkan, di tahun 1987 lahir sebuah game dungeon crawler 3D pertama bernama Dungeon Master (meski format 3D-nya belum fluid bahkan seperti Doom pertama). Di sini, pemain diperkenalkan dengan sistem combat yang real-time, magic berdasarkan rune, dan map yang sangat besar untuk dieksplorasi. 

Game RPG Dungeon Master

Tak hanya Starflight saja yang memiliki tema yang berbeda, di tahun 1988, muncul sebuah game yang mengambil tema post-apocalyptic di mana Amerika dihancurkan oleh bom nuklir bernama Wasteland. Banyak yang menganggap bahwa game yang lahir beberapa tahun setelahnya, Fallout merupakan spiritual successor dari Wasteland. Namun, anggapan itu dibantah oleh kreatornya sendiri bahwa Fallout sama sekali tidak terinspirasi dari game bertema post-apocalypse. Bahkan, rencana awalnya Fallout memiliki tema fantasi.

Tak hanya kreator RPG barat saja yang memunculkan game-game RPG di era 80-an. Di pertengahan hingga akhir tahun 80-an, kreator-kreator asal Jepang turut meramaikan kancah game RPG mereka melalui Final Fantasy yang digarap oleh SquareSoft pada Januari 1987 dan Dragon Quest (Dragon Warrior) oleh Chunsoft pada May 1986.

Baca juga: Xenogears: Proyek Ambisius dengan Cerita yang Filosofis

Menjadi semakin populer di tahun 1990-an

Di era ini juga console game rumahan juga memiliki perkembangan semakin pesat. Mulai dari SNES dengan teknologi 16-bit yang ditengarai memiliki spesifikasi lebih canggih dibandingkan Sega Genesis yang dirilis 2 tahun sebelumnya, hingga kehadiran konsol game changer PlayStation di tahun 1994.

Sayangnya, dibalik lonjakan teknologi di era 90-an tidak dibarengi dengan popularitas game-game RPG PC. Di era kejayaan konsol 16-bit, ternyata game yang lebih populer adalah game action side-scrolling dengan mechanics yang lebih ramah banyak gamers kasual dan minim peraturan. Di awal tahun 90-an, banyak studio pengembang game RPG yang tadinya terkenal, mengalami stagnasi. Stagnasi yang dialami kancah game RPG tak hanya dari sisi developer, namun juga sisi fans-nya yang sangat hardcore, sehingga tidak mudah untuk menyenangkan mereka. 

Ternyata, bukan pengembang dari Amerika yang menjadi penyelaman genre ini, melainkan developer Jepang melalui Chrono Trigger dan Final Fantasy VI yang dirilis di SNES oleh SquareSoft. Namun, hardcore fans, RPG tetap ingin unsur D&D yang kental. Kekerasan kepala diehard RPG murni, ternyata tidak membuat developer Jepang berhenti. Mereka tetap menghadirkan game RPG yang semakin inovatif, salah satunya kehadiran Final Fantasy VII yang memiliki grafis 3D yang revolusioner dan dilengkapi dengan cutscene atau FMV (Full Motion Video). 

Game RPG Chrono Trigger

Lalu, di dekade yang sama, developer Amerika juga mulai bereksplorasi dan berinovasi dengan menghadirkan game RPG yang dikombinasikan dengan game strategi yang akhirnya muncul game Jagged Alliance. Selain Jagged Alliance, seri Fallout, The Elder Scroll: Arena dan Diablo juga turut meramaikan kancah RPG di tahun 90-an. Bahkan, game seperti Baldur’s Gate membawa kembali dunia Forgotten Realms atau D&D di era 90-an ini.

Perubahan signifikan di era 2000-an

Di era milenium baru tentu membuka cakrawala baru untuk para developer game RPG. Setelah Baldur’s Gate sukses membawa kembali dunia D&D dan Forgotten Realms secara masif ke gamers, seri ini dilanjutkan di era tahun 2000-an. PC RPG semakin mendapatkan tempat, sehingga muncul game-game RPG dengan latar Forgotten Realms seperti Icewind Dale series, Neverwinter Nights series, dan Baldur’s Gate II dengan paket ekspansinya. 

Game RPG Icewind Dale

Begitu juga dengan pengembang Jepang yang semakin agresif manuvernya. Apalagi, di era 2000-an ini muncul gaming console dengan teknologi dan spesifikasi yang lebih canggih lagi. Tiga konsol game besar seperti Xbox, PS2, dan GameCube membuat developer berlomba-lomba membuat game RPG terbaiknya. Di sini muncul kelanjutan dari franchise lama dengan kualitas grafis yang sangat bagus seperti Final Fantasy X, Suikoden III, dan Star Ocean: Till the End of Time, hingga judul-judul baru seperti Shadow Hearts yang juga mampu mencuri perhatian para gamers.

Di pertengahan tahun 2000-an tentu juga menjadi kejayaan game RPG PC. Di tahun 2002, lahir game Neverwinter Nights yang mampu meraih 1 juta kopi di awal peluncurannya. Kemudian, BioWare kembali membuat RPG, namun mengangkat salah satu IP terpopuler di dunia, Star Wars, melalui Star Wars: Knight of the Old Republic yang juga meraih kesuksesan.

Era kemunculan konsol generasi ketujuh membuat developer semakin percaya diri menggarap game-game RPG, terutama developer Barat. Pada akhir 2006, BioWare tidak melanjutkan seri Neverwinter Nights dan memberikan tanggung jawab penggarapan sekuel game tersebut pada partner-nya, Obsidian Entertainment. 

Akan tetapi, hanya karena melepas franchise Neverwinter Nights, BioWare tidak berkarya. Setahun setelahnya, BioWare menggebrak kancah game RPG dengan Mass Effect, dan 2 tahun setelahnya , kembali menghadirkan sebuah game RPG bersama EA berjudul Dragon Age: Origins, yang secara penjualan sangat fantastis. 

Baca juga: [Review] Baldur’s Gate 3: Perubahan yang Signifikan

Era 2010-an hingga sekarang

Era 2010-an merupakan era di mana banyak developer yang berlomba-lomba menggarap sebuah game yang tak hanya menarik dari segi gameplay, namun juga grafis yang semakin realistis. Setelah kehadiran konsol generasi ke-7 yang diwarnai game-game RPG keren seperti Lost Odyssey dan beberapa judul lain. 

Game RPG Lost Odyssey

Elemen yang ada dalam game RPG digunakan oleh beberapa game besar yang tadinya masih merasa belum elemen RPG penting, yakni leveling up. Game open world action adventure seperti GTA V dan Red Dead Redemption turut mengadaptasikan elemen ini di dalam game-nya.

Tak hanya itu juga, di era 2010-an hingga sekarang, genre ini semakin fluid. Bahkan, dari Square Enix (yang sebelumnya SquareSoft), mencoba bereksperimen dengan mengusung gameplay mechanics seperti game action di Final Fantasy XV dan dilanjutkan di Final Fantasy XVI. Lalu, di tahun 2015, muncul game RPG fenomenal, yakni The Witcher 3 yang kini masih dimainkan oleh banyak gamers lantaran memiliki cerita yang mendalam dan juga gameplay yang bisa dimainkan oleh banyak kalangan.

Dan akhirnya, di era 2020-an lahir banyak game RPG seperti Cyberpunk 2077 dan yang baru saja rilis adalah seri ketiga Baldur’s Gate yang mengembalikan atmosfer game RPG klasik dengan gaya baru.

Game RPG Baldur's Gate 3

Kesimpulan

Meski mengalami pasang surut, game RPG merupakan salah satu genre yang banyak diminati oleh para gamers. Bahkan, warisannya masih utuh hingga sekarang. Kini, RPG tidak hanya bergaya turn-based saja, namun berubah wujud ke dalam berbagai wajah. Selain developer besar yang melahirkan game AAA, developer indie tak mau ketinggalan berkontribusi dalam meramaikan skena game RPG. 

—————————————————————————————————————————

Itu dia ulasan tentang evolusi dan sejarah game RPG dari awal hingga kini. Bagi kamu yang ingin membaca artikel terkait review game (konsol, PC, atau mobile), berita game, dan hal-hal menarik seputar game lainnya, kalian bisa terus kunjungi situs, Instagram, Facebook, dan juga Twitter Tombol Media!